Sunday, March 22, 2015

Matahari dan Toska: bagian 3

[Door Open]

Dalam ruang sunyi, Toska dan Matahari duduk, menatap dinding kosong. Setelah banyak senda gurau, banyak cerita, banyak emosi. Toska terdiam, Matahari pun terdiam.

"Udah 2 jam kita cuma ngomong ngalor ngidul. Sebenernya tujuan kita apa sih kesini?"

Hanya di ruang hampa ini, semua masalah tampak konyol. Yang ada hanyalah kita. aku. kamu. dibatasi dari dunia oleh dinding-dinding ini. Tak ada masa lalu, tak ada masa depan, hanya ada masa kini, seperti yang aku sukai. Kita berdua sama-sama menipu sendiri, menyangkal realita. Namun dalam penipuan ini, aku tau kamu merasa puas. Aku pun puas. Kepolosan yang tak bisa dibeli, yang akan hilang diluar dinding ini

"Inikah akhirnya?"
"Apa lagi yang bisa kita paksakan Toska?"

Dalam hatinya Matahari pun meragu, apakah yang keluar dari mulutnya adalah kata hatinya. Atau hanya pikirannya yang suka main aman. Toska hilang kemampuan bicara, ia tau apa yang sudah rusak tidak akan kembali. Bisakah Matahari menyinari harinya lagi? Apa sinar untuknya sudah mati, seperti nasib bintang yang lain?

Matahari lelah. Toska pun lelah
Lelah untuk memperjuangkan? basi. Lelah untuk mencoba? basi juga.
Hanya lelah ada untuk satu sama lain
Hanya lelah satu sama lain ada

"Aku minta maaf"
"Aku juga"







"Baik-baik ya. Tuhan berkati kamu"
[Door Close]

No comments:

Post a Comment