malam demi malam terasa jauh
dalam diam ia merasa
menunggu kabar dari sana
dalam etika ia katakan ya
dalam hati? tiada yang tahu
terlalu baik atau bodoh, kata ibunya
resah, bimbang, sendiri
tak bisakah waktu ia curangi
agar harapannya menjadi pasti
sesal memakan dirinya sedikit demi sedikit
menyisakan tulang yang dingin
menunggu hangat dari sana
detik serasa hari
mengolok di depan matanya
tak kuat berlari ia pun berhenti
menunggu..
menunggu..
uluran tangan dari sana