Saturday, August 29, 2015

dari sana

malam demi malam terasa jauh
dalam diam ia merasa

menunggu kabar dari sana

dalam etika ia katakan ya
dalam hati? tiada yang tahu

terlalu baik atau bodoh, kata ibunya

resah, bimbang, sendiri

tak bisakah waktu ia curangi
agar harapannya menjadi pasti

sesal memakan dirinya sedikit demi sedikit
menyisakan tulang yang dingin

menunggu hangat dari sana

detik serasa hari
mengolok di depan matanya
tak kuat berlari ia pun berhenti

menunggu..

menunggu..

uluran tangan dari sana

Tuesday, August 11, 2015

sembunyi

tak sering kau terlintas
bisa dikata kau tamu yang tidak sopan
walau dulu ini rumahmu
tanpa mengetuk atau berbincang
kau hanya meninggalkan jejak

kau tentu tidak sengaja
hanya aku yang tersadar dan mencari
bukan sesal, bukan benci
hanya kau yang bodoh
hanya aku yang lelah

kalau ia bintang maka kau adalah bulan
keberadaanmu adalah keteraturanmu
walau tahu, walau sangka
aku masih terpana dengan purnamamu
sembunyi adalah bodohmu

namun aku, kau, dia tahu
cahaya sebenarnya datang dari bintang
kasarkah aku mengatakan itu ilusi
dalam ruang waktu ini aku mengerti
bahwa rasa ini harus pergi

biarkan aku lupa akan malam yang telah lalu
relakan aku terjebak dalam alam tanpa tarikan gravitasimu
malam ini kau terkenang
namun esok menanti memberi yang terbaik

aku mencintai melalui air mata

Tuesday, August 4, 2015

Days

hari-hari denganmu membuatku meragu hari-hari tanpamu
pikiran-pikiran kecil bagaikan percikan api
membuat aliran darah seakan melambat
mencuri kehangatan dan meninggalkan
kucoba tepikan pikiran itu dan ada di saat ini
menikmati momen denganmu dan melupakan momen tanpamu

apakah ini ragu atau hanya realistis?
tentu tak ada hal-hal konyol maupun serius yang dapat menahanmu
diriku sendiri pun kuanggap hal konyol saja
bukankah manusia tiap hari diuji?
dan jika aku lulus akankah kamu kembali?
aku rasa aku hanyalah anak TK yang diminta untuk dewasa
hari-hari denganmu membuatku meragu hari-hari tanpamu