Monday, January 13, 2014

disitulah Toska bertemu Matahari
dibawah gelapnya langit
sinar bulan yang setengah ditutup awan
bintang-bintang yang juga tidak membantu

disitulah Matahari melihat indahnya kegelapan
disitulah Toska merasakan kehangatan matahari

disitulah dua jiwa menjadi satu
dan terbagi dua menjadi belahan jiwanya

Rumput liar yang asal-asalan tumbuh, tanah keras yang tidak rata, langit gelap yang sombong oleh polusinya, namun awan masih mampu menampakkan kepeduliannya. Pemandangan yang luas, walau tidak sampai cakrawala namun membuat mereka berdua tertegun. Air danau yang mencerminkan lampu-lampu jalan dan sinar dari kota

Perkenalan mereka berdua selama 7 bulan sekarang terasa asing. Toska tidak mengenali Matahari, dan Matahari tidak berharap Toska mengenalnya, gerhana Matahari sudah terungkap dan dengan itu ia puas.

"padahal aku udah pengen ninggalin kamu, ngelepas kamu, lupain kamu kalo perlu"

Matahari tidak berharap sesuatu bertahan untuk waktu yang lama, ia tau kedatangan dan kepergian tidak dapat ditentukan oleh kita. Selama ini ia memang tidak pernah menarik ataupun mengulur, sekali itu berakhir, Matahari akan melepas. Main-main katanya, adalah istilah yang salah, namun memang benar selama ini Matahari bermain-main dengan perasaannya. Sesuatu yang terasa asli membuatnya takut dan malah menjauh

"Toska, aku pengen cerita, biar kamu bisa ngerti"

Toska menganggap ini pengejaran biasa, sama seperti sebelumnya. Kalau tidak dapat, relakan. Kalau membosankan, lepaskan. Di hidup ini ia hanya membutuhkan sosok yang memenuhi jiwanya, sosok dalam wujud wanita. Menggantikan ia, wanita yang sangat ia cintai, yang seharusnya tidak meninggalkannya di usia begitu dini.

No comments:

Post a Comment