Friday, March 18, 2011

tolong dengar aku

apa arti sebuah janji padamu?

hanya kata-kata dengan makna kosong
hanya sesuatu yang keluar dari mulut

tapi mungkin janjiku berbeda
janjiku padamu adalah kata-kata tak terucap yang penuh arti
janjiku padamu bukan sembarang perkataan
janjiku bukanlah barang gratis yang bisa kuberikan pada semua orang

mungkin pintu itu sudah tertutup
mungkin sudah dipenuhi kawat kawat berduri
mungkin tanaman menjalar sudah menutupinya

tapi dengan tang akan kuputuskan kawat itu
dengan gunting akan kupotong tanaman rambat itu
dengan kunci yang tepat akan kubuka pintu itu

mungkin jika kau menyadari usahaku
pintu itu tak akan tertutup lagi
kawat itu tak akan menghalangi lagi
tanaman itu tak merambat lagi

baiklah, kedua kalinya kucoba, dengan tang, gunting dan kunci
tapi lagi-lagi kau tidak melihat usahaku
semua itu tertutup kembali

kau bisa membukanya dari dalam
dan membiarkan orang lain masuk
membiarkan orang lain melihat-lihat dibalik pintu itu
membiarkan orang lain menemanimu di menara sepi itu

kau bisa. tapi kau tidak mau

dari dalam kamu terus menyalahkan
mengapa tidak ada orang yang masuk kedalam pintu itu
tapi yang tidak kau sadari adalah
kamu yang tidak melihat usaha mereka

aku, dan banyak orang lain
sudah mencoba memasuki pintu itu
untuk mengisi buku harianmu
agar tiap harimu terasa berbeda

setidaknya kamu bisa mencoba untuk lebih terbuka
aku akan menyelesaikan puzzle itu, jika ada petunjuk berupa gambar di permukaannya
aku akan melihat hatimu, jika kamu membuka pintu untukku

kamu bisa mencoba untuk mengerti keadaan orang lain
dan orang lain juga akan bisa mengerti keadaanmu
dan mungkin hari hari mu akan penuh dengan berbagai macam orang

tapi kamu tidak bisa percaya
kamu sudah menuduh yang tidak-tidak, sebelum itu bahkan terjadi
kamu tidak mau membiarkan sesuatu yang asing mendekatimu

walaupun aku akan selalu mencoba membuka pintu itu
waktu akan membuat tang berkarat
waktu akan membuat gunting tumpul
dan akhirnya aku pun berhenti mencoba

mungkin memang salahku yang mudah menyerah
mungkin memang aku pengecut
bagaimanapun aku jugalah manusia
yang munafik,tidak pernah puas, dan sering merasa hebat




daun yang masih hijau
akan tetap berada diatas karena batang
batang besar yang menyongkong daun-daun itu
tanpa batang, daun-daun itu hanya akan terinjak-injak di tanah oleh manusia
dengan batang itu, daun tetap bisa menikmati angin, nyanyian burung, sampai pada akhir hayatnya di musim gugur

tanpa pondasi, apa jadinya sebuah rumah
rumah itu akan terhanyut oleh tsunami
akan terguncang oleh gempa
bahkan rata dengan tanah oleh badai

tanpa kaki dengan apa kita berjalan
menikmati bebatuan di kaki
menikmati angin saat berlari
menikmati rasa geli saat menapak di karpet bulu

tanpa Tuhan,keluarga, teman apa jadinya seorang manusia

No comments:

Post a Comment