hidupku dimulai dari sebuah kanvas
seumur hidupku, setiap hari kuisi sebuah bagian
kadang kubuat sebuat bentuk
kadang hanya kutorehkan warna saja
kadang aku melukis dengan menutup mata
kadang aku membuat seribu detail tanpa lelah
kadang ku torehkan kuas ku penuh amarah
kadang aku memilih warna sampai lupa akan waktu
namun di saat ini
aku mundur selangkah
dua langkah
tiga langkah
sampai aku bisa melihat lukisanku dari jarak yang tepat
dan aku tidak menyukai apa yang terlukis disitu
aku menyadari
apa yang terlukis
bukanlah sesuatu yang ingin kulukis
bukanlah sesuatu yang kurencanakan akan kulukis
bukan sesuatu yang kuduga akan kulukis
namun adalah sesuatu yang asing
aku tidak mengikuti hatiku akhir akhir ini
aku melukis penuh kepura puraan
aku mengikuti aliran yang bukan milikku
dan selalu terlambat untuk menyesal
aku hanya ingin
untuk menghapus lukisan itu
dan memulai dengan kanvas baru
karena sekarang kanvasku telah rusak tersayat sayat
oleh tanganku sendiri
Monday, October 31, 2011
Wednesday, October 19, 2011
i'm back
aku tidak menyukai realitas
karena realitas itu terlalu bening untukku, terlalu jernih, transparan..
karena aku tidak bisa menghindar dari hal ini
aku tidak bisa lari
aku harus berhadapan satu dengan satu
gravitasi yang membawaku kembali ke bumi
aku tidak lagi terbang, aku berjalan, menapak tanah
hentakkan tiba tiba ini tidak baru bagikku
namun kekagetan ku akan kesadaran ini masih terasa
aku baru sadar
aku meninggalkan realitas,
aku meninggalkan akal budi
aku meninggalkan kemanusiaanku
aku meninggalkan bumi ini
aku mengusir jauh jauh gravitasi
yang terus mengejarku, berusaha meraih pergelanganku
untuk membawaku masuk kembali ke masyarakat
aku minta maaf
akan perilaku yang didasari ketidaksadaranku
akan semua hal yang kuucapkan tanpa berpikir
pandangan mata yang ku torehkan
ekspresi muka yang kupaparkan
aku minta maaf
karena dunia mimpiku
menenggelamkan jiwaku, dan aku terayu olehnya
akan godaan untuk mengunjungi alam lain di luar sana
akan meneliti dimensi asing di sekeliling diriku
mungkin kau mau memaklumiku
karena sekarang
aku sudah kembali
tenggokan kepalamu, tolong lihat aku
aku sudah kembali, janganlah kau pergi
karena realitas itu terlalu bening untukku, terlalu jernih, transparan..
karena aku tidak bisa menghindar dari hal ini
aku tidak bisa lari
aku harus berhadapan satu dengan satu
gravitasi yang membawaku kembali ke bumi
aku tidak lagi terbang, aku berjalan, menapak tanah
hentakkan tiba tiba ini tidak baru bagikku
namun kekagetan ku akan kesadaran ini masih terasa
aku baru sadar
aku meninggalkan realitas,
aku meninggalkan akal budi
aku meninggalkan kemanusiaanku
aku meninggalkan bumi ini
aku mengusir jauh jauh gravitasi
yang terus mengejarku, berusaha meraih pergelanganku
untuk membawaku masuk kembali ke masyarakat
aku minta maaf
akan perilaku yang didasari ketidaksadaranku
akan semua hal yang kuucapkan tanpa berpikir
pandangan mata yang ku torehkan
ekspresi muka yang kupaparkan
aku minta maaf
karena dunia mimpiku
menenggelamkan jiwaku, dan aku terayu olehnya
akan godaan untuk mengunjungi alam lain di luar sana
akan meneliti dimensi asing di sekeliling diriku
mungkin kau mau memaklumiku
karena sekarang
aku sudah kembali
tenggokan kepalamu, tolong lihat aku
aku sudah kembali, janganlah kau pergi
Sunday, October 16, 2011
tebing es
disinilah aku berdiri
menatap ke bawah
kulihat bebatuan, ranting ranting pohon
tapi selanjutnya hitam
takut, tidak yakin, ragu
tapi aku tau
aku harus meloncat
aku harus mengambil resiko dan menyapa kegelapan dibawah sana
tapi aku tetap tidak meloncat
karena ketidaktahuan menakutiku
ketidaktahuanku akan nasibku menahanku
namun
aku tau, bila aku tidak meloncat
kakiku akan membeku
lalu menyatu dengan es dibawah kakiku
dan aku tidak akan bisa lolos
aku hanya akan menyesali mengapa aku tidak meloncat
disinilah aku berdiri
diatas tepi tebing es
terombang ambing akan dua pilihan
meloncat dan menerima apapun yang menungguku dibawah
atau bertahan di posisiku semula dan terjebak selamanya
menatap ke bawah
kulihat bebatuan, ranting ranting pohon
tapi selanjutnya hitam
takut, tidak yakin, ragu
tapi aku tau
aku harus meloncat
aku harus mengambil resiko dan menyapa kegelapan dibawah sana
tapi aku tetap tidak meloncat
karena ketidaktahuan menakutiku
ketidaktahuanku akan nasibku menahanku
namun
aku tau, bila aku tidak meloncat
kakiku akan membeku
lalu menyatu dengan es dibawah kakiku
dan aku tidak akan bisa lolos
aku hanya akan menyesali mengapa aku tidak meloncat
disinilah aku berdiri
diatas tepi tebing es
terombang ambing akan dua pilihan
meloncat dan menerima apapun yang menungguku dibawah
atau bertahan di posisiku semula dan terjebak selamanya
Thursday, October 13, 2011
vas
rasanya mulai berdebu
asik banget ya awal nulis langsung debu debuan
tiap hari bertambah sebuah lapisan
lapisan debu
aku biarkan saja bertumpuk
menutupi seluruh permukaan
agar aku tersembunyi
lebih baik begitu kan
lebih mudah begitu kan
daripada memuntahkan kata kata
walaupun begitu
kira kira setiap bulan
akan ada seseorang yang membersihkan selapis
namun setelah itu
ia membiarkannya berdebu lagi
berkurang selapis tidak membedakan apa apa
aku akan tertutup lagi
aku tidak tau mana yang lebih membuatku senang
lapisan berkurang selapis
agar aku bisa merasakan sinar matahari
atau aku bertambah 3 lapis lagi
agar aku bisa tersembunyi
agar retakan retakan samar ku tidak terlihat
agar motifku yang mulai memudar tidak disadari
agar aku tidak harus memuntahkan kata kata
aku membiarkan lantai melapuk
aku membiarkan kertas kertas menguning
aku membiarkan bunga mengering
karena semua itu lebih mudah
daripada memuntahkan kata kata
dan menyesali nya
asik banget ya awal nulis langsung debu debuan
tiap hari bertambah sebuah lapisan
lapisan debu
aku biarkan saja bertumpuk
menutupi seluruh permukaan
agar aku tersembunyi
lebih baik begitu kan
lebih mudah begitu kan
daripada memuntahkan kata kata
walaupun begitu
kira kira setiap bulan
akan ada seseorang yang membersihkan selapis
namun setelah itu
ia membiarkannya berdebu lagi
berkurang selapis tidak membedakan apa apa
aku akan tertutup lagi
aku tidak tau mana yang lebih membuatku senang
lapisan berkurang selapis
agar aku bisa merasakan sinar matahari
atau aku bertambah 3 lapis lagi
agar aku bisa tersembunyi
agar retakan retakan samar ku tidak terlihat
agar motifku yang mulai memudar tidak disadari
agar aku tidak harus memuntahkan kata kata
aku membiarkan lantai melapuk
aku membiarkan kertas kertas menguning
aku membiarkan bunga mengering
karena semua itu lebih mudah
daripada memuntahkan kata kata
dan menyesali nya
Subscribe to:
Comments (Atom)