Monday, October 31, 2011

seni hidup

hidupku dimulai dari sebuah kanvas
seumur hidupku, setiap hari kuisi sebuah bagian

kadang kubuat sebuat bentuk
kadang hanya kutorehkan warna saja
kadang aku melukis dengan menutup mata
kadang aku membuat seribu detail tanpa lelah
kadang ku torehkan kuas ku penuh amarah
kadang aku memilih warna sampai lupa akan waktu

namun di saat ini
aku mundur selangkah
dua langkah
tiga langkah
sampai aku bisa melihat lukisanku dari jarak yang tepat

dan aku tidak menyukai apa yang terlukis disitu

aku menyadari
apa yang terlukis
bukanlah sesuatu yang ingin kulukis
bukanlah sesuatu yang kurencanakan akan kulukis
bukan sesuatu yang kuduga akan kulukis
namun adalah sesuatu yang asing

aku tidak mengikuti hatiku akhir akhir ini
aku melukis penuh kepura puraan
aku mengikuti aliran yang bukan milikku

dan selalu terlambat untuk menyesal

aku hanya ingin
untuk menghapus lukisan itu
dan memulai dengan kanvas baru
karena sekarang kanvasku telah rusak tersayat sayat
oleh tanganku sendiri

Wednesday, October 19, 2011

i'm back

aku tidak menyukai realitas
karena realitas itu terlalu bening untukku, terlalu jernih, transparan..
karena aku tidak bisa menghindar dari hal ini
aku tidak bisa lari
aku harus berhadapan satu dengan satu

gravitasi yang membawaku kembali ke bumi
aku tidak lagi terbang, aku berjalan, menapak tanah
hentakkan tiba tiba ini tidak baru bagikku
namun kekagetan ku akan kesadaran ini masih terasa

aku baru sadar
aku meninggalkan realitas,
aku meninggalkan akal budi
aku meninggalkan kemanusiaanku
aku meninggalkan bumi ini

aku mengusir jauh jauh gravitasi
yang terus mengejarku, berusaha meraih pergelanganku
untuk membawaku masuk kembali ke masyarakat

aku minta maaf
akan perilaku yang didasari ketidaksadaranku
akan semua hal yang kuucapkan tanpa berpikir
pandangan mata yang ku torehkan
ekspresi muka yang kupaparkan

aku minta maaf
karena dunia mimpiku
menenggelamkan jiwaku, dan aku terayu olehnya
akan godaan untuk mengunjungi alam lain di luar sana
akan meneliti dimensi asing di sekeliling diriku

mungkin kau mau memaklumiku
karena sekarang
aku sudah kembali

tenggokan kepalamu, tolong lihat aku
aku sudah kembali, janganlah kau pergi

Sunday, October 16, 2011

tebing es

disinilah aku berdiri
menatap ke bawah
kulihat bebatuan, ranting ranting pohon
tapi selanjutnya hitam

takut, tidak yakin, ragu
tapi aku tau
aku harus meloncat
aku harus mengambil resiko dan menyapa kegelapan dibawah sana

tapi aku tetap tidak meloncat
karena ketidaktahuan menakutiku
ketidaktahuanku akan nasibku menahanku
namun
aku tau, bila aku tidak meloncat
kakiku akan membeku
lalu menyatu dengan es dibawah kakiku
dan aku tidak akan bisa lolos
aku hanya akan menyesali mengapa aku tidak meloncat

disinilah aku berdiri
diatas tepi tebing es
terombang ambing akan dua pilihan
meloncat dan menerima apapun yang menungguku dibawah
atau bertahan di posisiku semula dan terjebak selamanya

Thursday, October 13, 2011

vas

rasanya mulai berdebu

asik banget ya awal nulis langsung debu debuan

tiap hari bertambah sebuah lapisan
lapisan debu
aku biarkan saja bertumpuk
menutupi seluruh permukaan
agar aku tersembunyi

lebih baik begitu kan
lebih mudah begitu kan
daripada memuntahkan kata kata

walaupun begitu
kira kira setiap bulan
akan ada seseorang yang membersihkan selapis

namun setelah itu
ia membiarkannya berdebu lagi
berkurang selapis tidak membedakan apa apa
aku akan tertutup lagi

aku tidak tau mana yang lebih membuatku senang
lapisan berkurang selapis
agar aku bisa merasakan sinar matahari

atau aku bertambah 3 lapis lagi
agar aku bisa tersembunyi
agar retakan retakan samar ku tidak terlihat
agar motifku yang mulai memudar tidak disadari
agar aku tidak harus memuntahkan kata kata

aku membiarkan lantai melapuk
aku membiarkan kertas kertas menguning
aku membiarkan bunga mengering
karena semua itu lebih mudah
daripada memuntahkan kata kata

dan menyesali nya