disaat kamu berteriak tidak mau, disaat kamu memberontak sekuat tenaga, disaat kamu lari dan kabur
sayangnya kenyataan bisa berteriak lebih keras, menahan lebih keras, dan berlari lebih cepat
yang bisa kita lakukan hanya menerima kenyataan itu, dengan lapang dada maupun dengan tangisan
disaat kamu tidak ingin mengetahui kebenarannya
disaat kamu hanya mau membiarkan itu menjadi kepingan2 puzzle tak selesai, dibanding sebuah puzzle jadi
disaat kamu malah ingin memendam harta karun lebih dalam, bukannya membukanya
disaat kamu mau menutup buku dan memutuskan tidak membuka halaman2 selanjutnya
tapi kebenaran itu malah datang tak disadari, tak disengaja, dan tak kenal waktu
dan yang dihasilkan adalah tangisan di pojok ruangan, pikiran negatif, perasaan putus asa, keinginan untuk menghilang karena kebenaran yang pahit itu
disaat kamu mengira kamu benar, tapi ternyata kamu salah, dan rasa benar yang terlanjur kita rasakan menjadi rasa dihianati, rasa dibohongi, dan rasa ditipu
mungkin jika hati dan otak ini less sensitive
mungkin tidak mustahil untuk tidak bersedih akan hal ini
mungkin hal-hal baik akan terjadi
bila tidak adanya perasaan pesimis, mungkin kita tidak akan meragukan diri kita lagi
namun hal itu mustahil, karena tanpa pesimis, optimis tidak akan se optimis itu
disaat suatu hari dimana tampaknya semua hal berjalan sesuai rencana, kalaupun tidak, hal itu menjadi cherry on top dari rencanamu
lalu dihari lainnya semua hal tidak sesuai harapanmu, sepertinya semua hal berkesan ingin mengecewakanmu
terkesan seperti pembalasan dendam karena dihari satunya nothings went wrong
merasa seperti bila ada hal baik yang terjadi, harus ada hal buruk yang mengimbangi hal baik itu
seperti bila kita berhutang, kita mendapatkan uangnya dan keinginan kita terwujud, tetapi sehabis perasaan senang itu masih ada hutang yang harus kita bayar
benar benar lebih baik kalo gw gak usah tau aja, bener bener bener lebih baik, daripada harus kayak sekarang
No comments:
Post a Comment