Friday, July 25, 2014

Matahari dan Toska: bagian 2

Matahari menikmati saat ini. Terduduk disamping Toska, sosok yang lama ia kenal namun sedikit sekali ia bisa selami. Ia menyukai misteri, dan sosok Toska selalu menariknya kepada keingintahuan untuk melucuti helai demi helai yang menutupi jiwanya. Toska dengan jujur membuka kartu-kartunya, namun Matahari tau ada bagian lebih dalam dan lebih gelap yang belum dapat ia raih. Matahari ingin melihatnya dan tinggal didalamnya.

Toska menikmati saat ini. Matahari yang sekilas terlihat begitu biasa dengan senyuman dan tawa ternyata bisa mengejutkannya dengan kata-kata dan mimpinya.  Matahari bercengkrama layaknya anak remaja, namun berpikir layaknya orang gila. Pikiran Matahari begitu luas. Tidak berbatas. Menantang kemustahilan dan logika. Gila ini memabukkan. Bertolak belakang dengan hubungan yang pasti, ia menganggap ini bukanlah kesempurnaan, namun ketidaksempurnaan yang begitu indah.

Matahari dan Toska terdiam, merasa bebas dari ruang dan waktu.

"Aku dibesarkan oleh angin dan gelombang
Aku dibesarkan oleh api dan batu karang
Ole sioh sayange rasa sayang badane
Ayahku adalah sang matahari dan ibuku rembulan

Berdiri melangkah dan ku berlari merebut masa depan
Ole sioh sayange rasa sayang badane"

Banyaknya uang receh yang telah Toska berikan kepada pengamen menyadarkan Matahari bahwa saatnya pulang. Saatnya kembali ke tanah dimana mereka dapat berpijak. Saatnya kembali kecewa karena ia ingin momen ini berlangsung selamanya.

Dasar realita. Entah membawa bencana atau berkat. Realita yang mengutamakan kewarasan. Waras akan posisi dan situasi dimana Matahari dan Toska berdiri. Waras akan tindakan yang berujung resiko, yang mungkin disyukuri atau malah disesali.

Thursday, July 24, 2014

Matahari dan Toska: bagian 1

disitulah Toska bertemu Matahari
dibawah gelapnya langit
sinar bulan yang setengah ditutup awan
bintang-bintang yang juga tidak membantu

disitulah Matahari melihat indahnya kegelapan
disitulah Toska merasakan kehangatan matahari

disitulah dua jiwa menjadi satu
dan terbagi dua menjadi belahan jiwanya

Rumput liar yang asal-asalan tumbuh, tanah keras yang tidak rata, langit gelap yang sombong oleh polusinya, namun awan masih mampu menampakkan kepeduliannya. Pemandangan yang luas, walau tidak sampai cakrawala namun membuat mereka berdua tertegun. Air danau yang mencerminkan lampu-lampu jalan dan sinar dari kota

Perkenalan mereka berdua selama 7 bulan sekarang terasa asing. Toska tidak mengenali Matahari, dan Matahari tidak berharap Toska mengenalnya, gerhana Matahari sudah terungkap dan dengan itu ia puas.

"padahal aku udah pengen ninggalin kamu, ngelepas kamu, lupain kamu kalo perlu"

Matahari tidak berharap sesuatu bertahan untuk waktu yang lama, ia tau kedatangan dan kepergian tidak dapat ditentukan oleh kita. Selama ini ia memang tidak pernah menarik ataupun mengulur, sekali itu berakhir, Matahari akan melepas. Main-main katanya, adalah istilah yang salah, namun memang benar selama ini Matahari bermain-main dengan perasaannya. Sesuatu yang terasa asli membuatnya takut dan malah menjauh

"Toska, aku pengen cerita, biar kamu bisa ngerti"

Toska menganggap ini pengejaran biasa, sama seperti sebelumnya. Kalau tidak dapat, relakan. Kalau membosankan, lepaskan. Di hidup ini ia hanya membutuhkan sosok yang memenuhi jiwanya, sosok dalam wujud wanita. Menggantikan ia, wanita yang sangat ia cintai, yang seharusnya tidak meninggalkannya di usia begitu dini. Toska mendapatkan sesuatu yang benar benar berbeda. Ia melihat Matahari bagaikan ia melihat jawaban.

Wednesday, July 9, 2014